jam

Saturday, 22 December 2012

Hair dryer teman bagi kaum wanita


 Fase modern.
            Fase ini merupakan puncak perkembangan teknik yang telah dicapai manusia. Teknik modern ini bertitik tolak dari analisa matematis alam, sehingga manusia mampu membangun suatu peradaban baru, yaitu peradaban mesin. Contoh mesin pengering rambut (hairdryer) . untuk tulisan saya kali ini akan membahas tentang penerapan perkembangan iptek pada mesin pengering rambut atau yang sering disebut hairdryer.
Hairdyer merupakan produk teknologi industri yang harus dilakukan manusia dalam usaha untuk memenuhi kebutuhannya yang makin meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya. Karena itu diperlukan alih teknologi (transfer of technology) dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang. Proses pengambilan teknologi ini memerlukan perhitungan yang matang agar teknologi yang baru dapat diterima dan digunakkan oleh masyarakat (teknologi yang adaptif). Menurut saya,  Hairdryer masuk kedalam teknologi yang adaptif dimana masyarakat yang khususnya kaum wanita waktu itu sangat menerima berkembangan teknologi yang pertama kali diciptakan oleh bangsa Perancis hingga sampai saat ini hairdryer masih tinggi tingkat kebutuhannya.
Sejarah pengering rambut (Hairdryer)
Sebelum penemuan pengering rambut, hal itu biasa bagi pria dan wanita untuk mengeringkan rambut mereka menggunakan vacuum cleaner . Bahkan, model asli pengering rambut diciptakan pada tahun 1890 oleh Alexander Godefroy dengan mengambil inspirasi dari vacuum cleaner. Alexander menciptakannya untuk penggunaan dalam bukunya salon rambut di Perancis dan itu tidak portabel atau genggam, melainkan hanya bisa digunakan dengan memiliki wanita duduk di bawahnya. Sebuah pengering rambut hood memiliki kubah plastik keras yang turun dan cocok di atas kepala seseorang untuk mengeringkan rambut mereka. Udara panas ditiup keluar melalui lubang kecil di sekitar bagian dalam kubah sehingga rambut seseorang dikeringkan merata. Pengering rambut hari hood terutama ditemukan di salon rambut.
Itu tidak sampai sekitar tahun 1915 bahwa pengering rambut mulai didistribusikan  di pasar dalam bentuk genggam. Hal ini disebabkan oleh inovasi Stamping Nasional dan Electricworks bawah merek salib putih (diiklankan di sini pada tahun 1915, dan kemudian AS Racine Universal Motor Company dan Hamilton Beach Co yang memungkinkan pengering rambut menjadi genggam.  Listrik yang digunakkan 100 watt, sehingga butuh waktu yang lebih lama untuk rambut kering (pengering rambut rata-rata saat ini dapat menggunakan hingga 2000 watt panas).
Sejak tahun 1920, pengembangan pengering rambut telah terutama difokuskan pada peningkatan eksterior watt dan dangkal dan perubahan materi. Bahkan, mekanisme pengering rambut tidak memiliki perubahan yang signifikan sejak awal. Salah satu perubahan yang lebih penting untuk pengering rambut adalah memiliki bahan berubah menjadi plastik sehingga lebih ringan. Ini benar-benar tertangkap pada tahun 1960 dengan pengenalan motor listrik yang lebih baik dan peningkatan plastik. Perubahan penting lainnya terjadi pada 1954 ketika GEC mengubah desain pengering untuk memindahkan motor di dalam casing. Juga, termasuk mekanisme keamanan di dalamnya telah penting, terutama karena Consumer Product Safety Commission mengatur pedoman pada 1970-an bahwa pengering rambut harus bertemu untuk dianggap aman untuk memproduksi. Sejak tahun 1991 CPSC telah diamanatkan oleh hukum AS bahwa semua pengering harus menggunakan interrupter gangguan tanah sirkuit sehingga tidak dapat menyetrum seseorang jika mendapat basah.
Pada tahun 2000, kematian oleh blowdryers telah turun menjadi kurang dari empat orang per tahun, perbedaan mencolok dengan ratusan kasus kecelakaan listrik selama pertengahan abad kedua puluh. Dalam hal kesehatan yang positif, ini jenis pengering rambut juga telah dikutip sebagai pengobatan yang efektif  untuk kutu kepala . Secara keseluruhan, ukuran, berat, kebisingan, dan penampilan dari pengering rambut telah berubah secara dramatis dari contraptions berat berisik besar dari awal bagian dari abad kedua puluh, dengan plastik efisien bahwa orang-orang yang digunakan untuk saat ini.
Ada dua jenis utama lainnya dari blowdryers selain genggam. Ini adalah pengering rambut kap dan pengering rambut kaku-hood. Pengering rambut bonnet diperkenalkan kepada konsumen pada tahun 1951. Jenis pengering bekerja dengan memiliki pengering, biasanya dalam sebuah kotak kecil portabel, terhubung ke sebuah tabung yang masuk ke bonnet dengan lubang di dalamnya yang dapat ditempatkan di atas kepala seseorang. Hal ini bekerja dengan memberikan jumlah yang lebih panas ke seluruh kepala sekaligus. Tahun 1950-an juga melihat pengenalan pengering rambut kaku-hood yang merupakan jenis yang paling sering terlihat di salon, dan memiliki helm plastik keras yang berjalan di atas kepala. Pengering ini bekerja mirip dengan pengering rambut bonnet tetapi pada watt jauh lebih tinggi.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/4/4a/Commons-logo.svg/30px-Commons-logo.svg.png
Wikimedia Commons memiliki kategori mengenai: Pengering rambut

Efek Pemakaian Hair Dyer Untuk Rambut

 



Mengeringkan rambut sehabis keramas menggunakan hair dryer, kini banyak dilakukan oleh kaum wanita. Cara itu memang dapat mempercepat proses keringnya rambut. Namun jika dilakukan terus-menerus ternyata membawa dampak yang buruk bagi rambut Anda.
Ingin tahu apa saja efek pemakaian hair dryer bagi rambut?
Berikut ini seperti dikutip dari situs Boldsky;
  • Merusak kutikula rambut.
Panas yang dikeluarkan oleh hair dryer berikut tekanan udaranya mampu merusak kutikula rambut. Kerusakan itu akan bersifat sementara jika penggunaan alat pengering rambut itu tidak terus-menerus Anda lakukan. Namun jika kontinyu, maka kerusakan kutikula itu dapat menjadi permanen.
  • Rambut rontok.
Saat mengeringkan rambut dengan hair dryer, pori-pori di permukaan kulit kepala terbuka dan itu membuat rambut lebih mudah rontok. Apalagi jika saat pengeringan itu Anda menyisir rambut dengan sisir bergigi rapat.
  • Rambut bercabang.
Tekstur helai rambut yang tadinya sehat dapat menjadi rusak jika terkena panas dari hair dryer. Bahkan lapisan dalam rambut pun dapat terpengaruh, menjadi kering, dan menyebabkan rambut bercabang.
  • Kering dan tak bercahaya.
Rambut yang terlalu sering dikeringkan dengan alat pengering rambut akan menjadi kering dan kehilangan cahaya alaminya. Karena itu, walau sedikit lebih lama, ada baiknya Anda tetap mengeringkan rambut dengan cara biasa. Yaitu dengan handuk dan diangin-anginkan saja

Ingin tahu bagaimana proses pencegahan seperti apa ?
Berikut kiat yang dikutip dari All Women Stalk.

1. Keramas menggunakan air dingin

Penggunaan air hangat saat mandi dan keramas jamak dilakukan sebagian orang di pagi hari. Namun jika ketergantungan Anda dengan hair dryer tidak bisa dilepaskan, ada baiknya Anda menggunakan air dingin untuk keramas.

Di samping membuat kutikula rambut tertutup rapat, penggunaan air dingin juga berfungsi untuk menjaga rambut tetap lembab.

2. Gunakan saat rambut setengah kering
Padatnya acara membuat Anda terburu-buru untuk mengeringkan rambut. Kerusakan rambut dapat dikurangi dengan mengeringkan rambut dengan handuk terlebih dahulu sebelum pengunaan hair dryer.

Bisa juga dengan mengeringkannya di depan kipas angin, sehingga panas hair dryer tidak sempat merusak lapisan dalam maupun luar rambut.

3. Atur tingkat kepanasan
Sebaiknya gunakan hair dryer yang memiliki pengaturan panas. Rambut yang telah setengah kering hanya perlu dikeringkan dengan tingkat panas terendah. Tanpa berlama-lama di bawah terpaan suhu yang panas.

4. Gunakan dengan jarak yang jauh
Usahakan untuk menggunakan hair dryer dengan jarak yang tidak terlalu dekat, apalagi hingga menempel dengan rambut. Dengan begitu kerusakan rambut dapat dikurangi.

Saturday, 15 December 2012

Sayuran Segar menjadi Ancaman



Sayuran merupakan sebutan umum bagi bahan pangan asal tumbuhan yang biasanya mengandung kadar air tinggi dan dikonsumsi dalam keadaan segar atau setelah diolah secara minimal. Sebutan untuk beraneka jenis sayuran disebut sebagai sayur-sayuran atau sayur-mayur.

Nutrisi pada sayuran

Sayuran dikonsumsi dengan cara yang sangat bermacam-macam, baik sebagai bagian dari menu utama maupun sebagai makanan sampingan. Kandungan nutrisi antara sayuran yang satu dan sayuran yang lain pun berbeda-beda, meski umumnya sayuran mengandung sedikit protein atau lemak, dengan jumlah vitamin, provitamin, mineral, fiber dan karbohidrat yang bermacam-macam. Beberapa jenis sayuran bahkan telah diklaim mengandung zat antioksidan, antibakteri, antijamur, maupun zat anti racun.
Namun, seringkali sayuran juga mengandung racun dan antinutrients seperti α-solanin, α-chaconine, enzim inhibitor (dari cholinesterase, protease, amilase, dsb), sianida dan sianida prekursor, asam oksalat, dan banyak lagi. Memasak dan atau pengolahan lainnya mungkin diperlukan untuk menghilangkan semua racun tersebut.

Mengapa sayuran-sayuran segar ini mengandung racun ?

Disebabkan karena penggunaan pupuk, pestisida, dan bahan kimia lainnya yang terus menerus dapat merusak biota tanah, keresistenan hama dan penyakit, serta dapat merubah kandungan vitamin dan mineral beberapa komoditi sayuran. Hal ini tentunya jika dibiarkan lebih lanjut akan berpengaruh fatal bagi siklus kelangsungan kehidupan, bahkan jika sayuran yang telah tercemar tersebut dimakan oleh manusia secara terus menerus, tentunya akan menyebabkan kerusakan jaringan bahkan kematian.

Perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap soal pertanian dan lingkungan beberapa tahun terakhir ini menjadi meningkat. Keadaan ini disebabkan karena semakin dirasakannya dampak negatif yang besar bagi lingkungan, dan jika dibandingkan dengan dampak positifnya bagi peningkatan produktivitas tanaman pertanian pengaruh bahan kimia tersebut tidak sebanding. Bahan-bahan kimia yang selalu digunakan untuk alasan produktivitas dan ekonomi ternyata saat ini lebih banyak menimbulkan dampak negatif baik bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya.

Bertitik tolak dari hal tersebut, saat ini banyak masyarakat yang mengkonsumsi sayuran terutama komoditi segar yang bebas bahan kimia. Mereka lebih suka membeli sayuran yang bolong-bolong karena hama penyakit daripada sayuran segar yang mulus tetapi banyak disemprot bahan kimia. Melihat kecenderungan masyarakat tersebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam bidang pertanian adalah mengembangkan pertanian dengan sistem pertanian organic yang prinsip pengelolaannya kembali ke alam yang menunjukkan fase teknik destruktif.


Macam – macam  Pestisida Tanaman


Pestisida adalah sebutan untuk semua jenis obat (zat/bahan kimia) pembasmi hama yang ditujukan untuk melindungi tanaman dari serangan serangga, jamur, bakteri, virus dan hama lainnya seperti tikus, bekicot, dan nematoda (cacing).

Walaupun demikian, istilah pestisida tidak hanya dimaksudkan untuk racun pemberantas hama tanaman dan hasil pertanian, tetapi juga racun untuk memberantas binatang atau serangga dalam rumah, perkantoran atau gudang, serta zat pengatur tumbuh pada tumbuhan di luar pupuk.

Pestisida yang biasa digunakan para petani dapat digolongkan menurut beberapa hal berikut:

A. Berdasarkan Fungsi/sasaran penggunaannya, pestisida dibagi menjadi 6 jenis yaitu:

1. Insektisida adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas serangga seperti belalang, kepik, wereng, dan ulat. Insektisida juga digunakan untuk memberantas serangga di rumah, perkantoran atau gudang, seperti nyamuk, kutu busuk, rayap, dan semut. Contoh: basudin, basminon, tiodan, diklorovinil dimetil fosfat, diazinon,dll.

2. Fungisida adalah pestisida untuk memberantas/mencegah pertumbuhan jamur/cendawan seperti bercak daun, karat daun, busuk daun, dan cacar daun.
Contoh: tembaga oksiklorida, tembaga (I) oksida, carbendazim, organomerkuri, dan natrium dikromat.

3. Bakterisida adalah pestisida untuk memberantas bakteri atau virus. Salah satu contoh bakterisida adalah tetramycin yang digunakan untuk membunuh virus CVPD yang menyerang tanaman jeruk. Umumnya bakteri yang telah menyerang suatu tanaman sukar diberantas. Pemberian obat biasanya segera diberikan kepada tanaman lainnya yang masih sehat sesuai dengan dosis tertentu.

4. Rodentisida adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanaman berupa hewan pengerat seperti tikus. Lazimnya diberikan sebagai umpan yang sebelumnya dicampur dengan beras atau jagung. Hanya penggunaannya harus hati-hati, karena dapat mematikan juga hewan ternak yang memakannya. Contohnya: Warangan.

5. Nematisida adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanaman berupa nematoda (cacing). Hama jenis ini biasanya menyerang bagian akar dan umbi tanaman. Nematisida biasanya digunakan pada perkebunan kopi atau lada. Nematisida bersifat dapat meracuni tanaman, jadi penggunaannya 3 minggu sebelum musim tanam. Selain memberantas nematoda, obat ini juga dapat memberantas serangga dan jamur. Dipasaran dikenal dengan nama DD, Vapam, dan Dazomet.

6. Herbisida adalah pestisida yang digunakan untuk membasmi tanaman pengganggu (gulma) seperti alang-alang, rerumputan, eceng gondok, dll. Contoh: ammonium sulfonat dan pentaklorofenol.

B. Berdasarkan bahan aktifnya, pestisida dibagi menjadi 3 jenis yaitu:

- Pestisida organik (Organic pesticide): pestisida yang bahan aktifnya adalah bahan organik yang berasal dari bagian tanaman atau binatang, misal: neem oil yang berasal dari pohon mimba (neem).

- Pestisida elemen (Elemental pesticide): pestisida yang bahan aktifnya berasal dari alam seperti: sulfur.

- Pestisida kimia/sintetis (Syntetic pesticide): pestisida yang berasal dari campuran bahan-bahan kimia.

C. Berdasarkan cara kerjanya, pestisida dibagi menjadi 2 jenis yaitu:

- Pestisida sistemik (Systemic Pesticide): adalah pestisida yang diserap dan dialirkan ke seluruh bagian tanaman sehingga akan menjadi racun bagi hama yang memakannya. Kelebihannya tidak hilang karena disiram. Kelemahannya, ada bagian tanaman yang dimakan hama agar pestisida ini bekerja. Pestisida ini untuk mencegah tanaman dari serangan hama. Contoh: Neem oil.

- Pestisida kontak langsung (Contact pesticide): adalah pestisida yang reaksinya akan bekerja bila bersentuhan langsung dengan hama, baik ketika makan ataupun sedang berjalan. Jika hama sudah menyerang lebih baik menggunakan jenis pestisida ini. Contoh: Sebagian besar pestisida kimia.

D. Efek Penggunaan Pestisida
Usaha peningkatan produksi pertanian tidak hanya dilakukan melalui pemupukan tetapi juga melalui upaya perlindungan tanaman agar tanaman bebas dari serangan hama penyakit.

Untuk pemberantasan hama tersebut salah satunya adalah dengan menggunakan berbagai jenis zat kimia yang disebut dengan pestisida. Namun penggunaan pestisida telah menimbulkan dampak negatif, baik itu bagi kesehatan manusia maupun bagi kelestarian lingkungan. Dampak negatif ini akan terus terjadi seandainya kita tidak hati-hati dalam memilih jenis dan cara penggunaannya.

Adapun dampak negatif yang mungkin terjadi akibat penggunaan pestisida diantaranya:

1. Tanaman yang diberi pestisida dapat menyerap pestisida yang kemudian terdistribusi ke dalam akar, batang, daun, dan buah. Pestisida yang sukar terurai akan berkumpul pada hewan pemakan tumbuhan tersebut termasuk manusia. Secara tidak langsung dan tidak sengaja, tubuh mahluk hidup itu telah tercemar pestisida. Bila seorang ibu menyusui memakan makanan dari tumbuhan yang telah tercemar pestisida maka bayi yang disusui menanggung resiko yang lebih besar untuk teracuni oleh pestisida tersebut daripada sang ibu. Zat beracun ini akan pindah ke tubuh bayi lewat air susu yang diberikan. Dan kemudian racun ini akan terkumpul dalam tubuh bayi (bioakumulasi).

2. Pestisida yang tidak dapat terurai akan terbawa aliran air dan masuk ke dalam sistem biota air (kehidupan air). Konsentrasi pestisida yang tinggi dalam air dapat membunuh organisme air diantaranya ikan dan udang. Sementara dalam kadar rendah dapat meracuni organisme kecil seperti plankton. Bila plankton ini termakan oleh ikan maka ia akan terakumulasi dalam tubuh ikan. Tentu saja akan sangat berbahaya bila ikan tersebut termakan oleh burung-burung atau manusia. Salah satu kasus yang pernah terjadi adalah turunnya populasi burung pelikan coklat dan burung kasa dari daerah Artika sampai daerah Antartika. Setelah diteliti ternyata burung-burung tersebut banyak yang tercemar oleh pestisida organiklor yang menjadi penyebab rusaknya dinding telur burung itu sehingga gagal ketika dierami. Bila dibiarkan terus tentu saja perkembangbiakan burung itu akan terhenti, dan akhirnya jenis burung itu akan punah.

3. Ada kemungkinan munculnya hama spesies baru yang tahan terhadap takaran pestisida yang diterapkan. Hama ini baru musnah bila takaran pestisida diperbesar jumlahnya. Akibatnya, jelas akan mempercepat dan memperbesar tingkat pencemaran pestisida pada makhluk hidup dan lingkungan kehidupan, tidak terkecuali manusia yang menjadi pelaku utamanya.

E. Upaya Mengurangi Efek Negatif Pestisida

Mengurangi residu

Ada beberapa langkah untuk mengurangi residu yang menempel pada sayuran, antara lain dengan mencucinya secara bersih dengan menggunakan air yang mengalir, bukan dengan air diam. Jika yang kita gunakan air diam (direndam) justru sangat memungkinkan racun yang telah larut menempel kembali ke sayuran. Berbagai percobaan menunjukkan bahwa pencucian bisa menurunkan residu sebanyak 70 persen untuk jenis pestisida karbaril dan hampir 50 persen untuk DDT. Mencuci sayur sebaiknya jangan lupa membersihkan bagian-bagian yang terlindung mengingat bagian ini pun tak luput dari semprotan petani. Untuk kubis misalnya, lazim kita lihat petani mengarahkan belalai alat semprot ke arah krop (bagian bulat dari kubis yang dimakan) sehingga memungkinkan pestisida masuk ke bagian dalam krop. Selain pencucian, perendaman dalam air panas (blanching) juga dapat menurunkan residu. Ada baiknya kita mengurangi konsumsi sayur yang masih mentah karena diperkirakan mengandung residu lebih tinggi dibanding kalau sudah dimasak terlebih dulu. Pemasakan atau pengolahan baik dalam skala rumah tangga atau industri terbukti dapat menekan tekanan kandungan residu pestisida pada sayuran.
Sayur-sayuran memang diperlukan tubuh untuk mencukupi kebutuhan kita akan berbagai mineral dan vitamin penting. Tetapi, karena di sana ada bahaya, kehati-hatian sangatlah dituntut dalam hal ini. Ada baiknya memang kalau kita tahu dari mana sayur itu dihasilkan. Tetapi paling aman pastilah kalau kita menghasilkan sayuran sendiri, dengan memanfaatkan pekarangan rumah, dengan pot sekalipun. Karena pestisida tidak hanya beracun bagi hama, tetapi dapat juga mematikan organisme yang berguna, ternak piaraan, dan bahkan manusia, maka agar terhindar dari dampak negatif yang timbul, penyimpanan dan penggunaannya harus dilakukan secara hati-hati dan dilakukan sesuai petunjuk.

Selain itu, untuk mengurangi dampak penggunaan pestisida dapat pula dilakukan dengan cara menggunakan pestisida alami atau pestisida yang berasal dari tumbuhan (biopestisida). Biopestisida tidak mencemari lingkungan karena bersifat mudah terurai (biodegradable) sehingga relatif aman bagi ternak peliharaan dan manusia. Sebagai contoh adalah air rebusan dari batang dan daun tomat dapat digunakan untuk memberantas ulat dan lalat hijau.

Kita juga dapat menggunakan air rebusan daun kemanggi untuk memberantas serangga. Selain tumbuhan tersebut, masih banyak tumbuhan lain yang mengandung bioaktif pestisida seperti tanaman mindi, bunga mentega, rumput mala, tuba, kunir, kucai, dll.

Pestisida adalah bahan yang berbahaya tetapi akan aman bila digunakan sesuai dengan aturannya.

Contoh penggunaan pestisida pada bayam

Pengendalian hama dan penyakit yang selama ini dilakukan oleh petani bayam adalah menggunakan pestisida. Meskipun penyemprotan pestisida hanya dilakukan satu atau dua kali selama hidup tanaman, tetapi karena umur panen bayam cabut sangat singkat yaitu sekitar 3-4 minggu dan pestisida yang digunakan kebanyakan pestisida yang umum yang daya racunnya masih terlalu tinggi, maka penggunaan pestisida sebaiknya dihindari. Pestisida yang digunakan para petani saat ini antara lain adalah Ambush, Curacron, Diazinon, Dursban, Thiodan. Sekali lagi ditekankan bahwa penyemprotan pestisida sebaiknya dihindari atau dikurangi. Apabila sangat terpaksa harus menggunakan pestisida, sebaiknya memilih pestisida yang selektif dan tidak persisten. Tetapi mengingat bahwa bayam cabut mudah dibudidayakan, bibit tersedia dengan mudah, umur panen singkat dan pemasaran relatif mudah, maka penanggulangan hama dan penyakit sebaiknya dilakukan dengan cara lain selain pestisida, yaitu memilih tempat dan waktu tanam, sanitasi lahan dan pupuk organik yang akan digunakan, dan penganekaragaman sayuran lain sehingga apabila pertanaman bayam gagal, kerugian dapat dikompensasi pertanaman lainnya tanpa harus menyemprot dengan pestisida.